Selasa, 15 Oktober 2019

ASAM dan BASA

Hay hay welcome back to my blog🤗.
Oke pada blog kali ini aku akan membahas materi tentang asam dan basa. Yap, daripada kelamaan langsung lanjut ke materi, stay tone gaes...



A. Pengertian Asam dan Basa
         




             Kata "asam" berasal dari bahasa Latin "acidus" yang berarti masam. Asam adalah zat (senyawa) yang menyebabkan rasa masam pada berbagai materi. Contoh: jeruk nipis, lemon, dan tomat.
             Basa adalah senyawa kimia yang menyerap ion hidronium ketika dilarutkan dalam air. Basa memiliki pH lebih besar dari 7. Basa adalah zat (senyawa) yang dapat bereaksi dengan asam, menghasilkan senyawa yang disebut garam. Contoh: sabun mandi, sabun cuci, sampo, pasta gigi, pupuk, obat mag.


B. Teori Asam Basa

             Teori asam basa di dalam ilmi kimia mempunyai tiga teori yang antara lain teori asam dan basa Arrhenius, teori asam dan basa Bronsted-Lowry, serta teori asam dan basa Lewis. Berikut penjelasannya,

1) Teori asam basa Arrhenius
             Teori asam dan basa ini dikemukakan oleh Svante August Arrhenius yang merupakan seorang ilmuwan Kimia berasal dari Swedia yang lahir pada tanggal 19 Februari 1859 sampai 02 Oktober 1927 silam. Svante August Arrhenius pada tahun 1884 silam menjelaskan bahwa kekuatan asam di dalam air tergantung pada konsentrasi ion-ion hidrogen di dalamnya.
             Menurut Svante August Arrhnius bahwa asam adalah zat yang jika di dalam air dapat melepaskan ion hidrogen (H+), sebenarnya ion-ion hidrogen yang dihasilkan oleh asam tersebut ketika dilarutkan di dalam air akan terikat dengan molekul-molekul air (H2O) dalam bentuk ion Hidronim yakni ion positif yang dibentuk atas penambahan sebuah ion Hidrogen (Proton) pada sebuah molekul air.
            Namun tidak semua senyawa hidrogen itu asam misalnya Etanol yang mempunyai rumus kimia C2H5OH, walaupun didalam Etanol terdapat unsur H namun Eranol bukanlah asam. Kemudian asam berdasarkan kekuatannya menurut Svante August Arrhenius ini terdiri dari asam kuat dan asam lemah, sedangkan jika dilihat dari jumlah ion H+ yang dilepaskannya maka dibedakan menjadi Asam Monoprotik, Asam Diprotik dan Asam Triprotik.
            Lalu teori asam basa menurut Arrhenius ini bahwa asam adalah senyawa yang dalam air mampu menghasilkan ion Hidroksida (OH-) dan basa berdasarkan pada ion OH- yang dilepaskan tersebut pada reaksi ionisasi basa maka dibedakan menjadi dua macam yang antara lain bas monohidrolik dan basa polohidroksi.

2) Teori asam basa Bronsted-Lowry
            Teori asam basa Bronsted dan Lowry ini merupakan sebuah teori yang melengkapi dari kekurangan teori asam dan basa Arrhenius karena tak semua senyawa itu bersifat asam ataupun basa dapat menghasilkan sebuah ion H+ atau OH- jika dilarutkan didalam air.
            Teori asam basa menurut Bronsted-Lowry bahwa asam ialah senyawa yang bisa menyumbang proton yakni ion H+ ke senyawa atau zat lain. Sedangkan basa ialah senyawa yang bisa menerima proton, yakni ion H+ dari senyawa atau zat lain. Lalu menurut Johannes Nicolaus Bronsted dan Thomas Martin Lowry bahwa zat mampu berperan baik sebagai asam ataupun basa, jika zat tertentu lebih mudah melepas Proton dan zat tersebut akan berperan sebagai asam dan lawannya berperan sebagai basa.
            Sebaliknya jika suatu zat lebih mudah menerima Proton maka zat tersebut akan berperan sebagai basa dan dalam suatu Larutan asam dalam air, air tersebut berperan sabagai basa. Namun didalam teori asam basa Bronsted Lowry ini memiliki kelemahan yakni tidak dapat memperlihatkan sifat asam maupun sifat basa suatu senyawa jika tidak terdapat proton yang terlibat didalam reaksi.

3) Teori asam basa Lewis
            Gilbert Newton Lewis merupakan ilmuwan kimia berasal dari Amerika Serikat yang lahir pada 23 Oktober 1875 dan meninggal pada 23 Maret 1946 yang terkenal dengan penemuannya seperti Ikatan Kovalen, Struktur Lewis dan asam basa Lewis. Menurut Gilbert Newton Lewis bahwa teori asam basa merupakan masalah dasar yang harus diselesaikan dengan landasan Teori Struktur Atom, bukan berdasarkan oleh hasil percobaan.
            Adapun teori asam basa menurut Lewis bahwa asam ialah zat yang dapat menerima elektron dan menurut Lewis bahwa basa ialah zat yang bisa mendonorkan pasangan elektron. Semua zat yang didefinisikan sebagai asam didalam teori asam basa Arrhenius juga merupakan asam didala kerangka teori Lewis ini karena Proon ialah Akseptor Pasangan Elektron dan didalam reaksi Netralis Proton dapat membentuk ikatan koordinat dengan Ion Hidroksida.


C. Sifat-sifat Asam dan Basa

    1) Sifat-sifat asam, yaitu:    
  • Rasanya masam/asam
  • Bersifat korosif atau merusak
  • Bila dilarutkan dalam air dapat dapat menghasilkan ion H+ atau ion-ion hidrogen dan ion sisa asam yang bermuatan negatif. Peristiwa terurainya asam menjadi ion-ion dapat dituliskan sebagai berikut: HA (aq) a H+ (aq) + A- (aq)
  • Bila diuji dengan indikator kertas lakmus biru dapat mengubah lakmus tersebut menjadi merah. sedangkan jika diuji dengan indikator kertas lakmus yang berwarna merah, kertas lakmus tersebut tidak akan akan berubah warna. Indikator adalah suatu alat untuk menunjukkan suatu zat apakah bersifat asam maupun basa. 

      2) Sifat-sifat basa, yaitu:    
  • Rasanya pahit
  • Bersifat kaustik atau dapat merusak kulit
  • Bila dilarutkan dalam air dapat menghasilkan ion OH- atau ion hidroksil dan ion logam atau gugus lain yang bermuatan negatif. Apabila ion OH- hampir seluruhnya dilepaskan atau ionisasinya sempurna, maka termasuk basa kuat atau dikatakan memiliki derajat keasaman yang rendah dan begitu juga sebaliknya. Secara umum peristiwa peruraian basa menjadi ion-ion dapat dituliskan sebagai berikut: BOH (aq) a B+ (aq) + OH- (aq)
  • Bila diuji dengan indikator yang berupa lakmus merah, maka akan mengubah warna lakmus tersebut menjadi warna biru, sedangkan dengan kertas lakmus biru, tidak akan mengubah warna kertas lakmus tersebut.


D. Perbedaan Asam dan Basa              







Daftar Pustaka:
                          

Rabu, 09 Oktober 2019

IKATAN dan UNSUR KIMIA (bagian 2)

Hay hay guys, balik lagi di blogku, btw ini blog ke-4 ku. Blog ke-4 ini masih lanjutan bab dari blog ke-3 aku ya. Oke langsung aja ke materi, semoga bermanfaat.



B. Faktor Elektronik

         Ikatan dan struktur senyawa ditentukan oleh sifat elektronik seperti kekuatan atom-atom penyusun dalam menarik dan menolak elektron. Orbital molekul yang diisi elektron valensi, susunan geometrisnya dipengaruhi oleh interaksi elektronik antar elektron non ikatan.

1. Muatan Inti Efektif
         Muatan positif inti sedikit banyak dilawan oleh elektron negatif bagian dalam (di bawah elektron valensi), muatan inti yang dirasakan oleh elektron valensi suatu atom dengan nomor atom Z akan lebih kecil dari muatan inti Ze. Penurunan ini disebut Konstanta Perisai dan muatan inti netto disebut dengan Muatan Inti Efektif (Zeff)

2. Energi Ionisasi
    



         Energi Ionisasi adalah energi minimum yang diperlukan untuk mengeluarkan elektron dari atom dalam fase gas (gas).
        A(g)-> A+(g) + e(g)
Energi ionisasi (Ei) diungkapkan dalam satuan elektron volt (eV)= 96.49 kJmol-1



Grafik Eergi Ionisasi (Ei)




3. Afinitas Elektron
           Afinitas elektron merupakan negatif entalpi penangkapan elektron oleh atom dalam fasa gas.
Sehingga didefinisikan Afinitas Elktron pertama adalah energi yang dilepaskan ketika 1 mol atom gas mendapatkan satu elektron untuk membentuk 1 mol ion gas.
Afinitas dapat dianggap sebagai entalpi ionisasi anion.
A(=-🔺️Heg)

4. Ke-elektronegatifan
  1) L. Pauling
           Ke-elektronegatifan merupakan parameter paling fundamental yang mengungkapkan secara numerik kecenderungan atom untuk menarik elktron dalam molekul. Skala Pauling justifikasinya paling dekat yang mendefinisikan besaran kuantitatif karakter ion ikatan.
                        Ke-elektronegatifan pauling
  2) A. L. Allerd dan E. G. Rochow
            Ke-elektronegatifan merupakan medan listrik di permukaan atom. Mereka menambahkan konstanta untuk membuat ke-elektronegatifan mereka sedekat mungkin dengan nilai Pauling dengan menggunakan melibatkan jari-jari ikatan kovalen dalam persamaan:
X ar= 0.74+0.36Zeff/r²
    Hasilnya: unsur-unsur dengan jari-jari kovalen yang kecil dan muatan inti efektif yang besar memiliki ke-elektronegatifan yang besar.

  3) R. Mulliken
            Ke-elekteonegatifan sebagai rata-rata energi ionisasi I dan afinitas elektron A
Persamaan: Xm=½(I+A)
Energi Ionisasi: energi eksitasi dari HOMO dan afinitas elektron adalah energi penambahan elektron ke LUMO. Sehingga ke-elektronegatifan adalah rata-rata energi HOMO dan LUMO.

5. Orbital Molekul
         Fungsi gelombang elektron dalam suatu atom disebut orbital atom.
Karena kebolehjadian menemukan elekteon dalam orbital molekul sebanding dengan kuadrat fungsi gelombang dan peta elektronik nampak seperti fungsi gelombang.
    Suatu gelombang fumgsi mempunyai suagu daerah beramplitudo positif dan negatif yang disebut cuping (lobes)
Syarat pembentukan orbital:
1) Cuping orbital atom penyusunnya cocok untuk tumpang tindih
2) Tanda positif atau negatif cuping yang bertumpang tindih sama
3) Tingkat energi orbital-orbital atomnya dekat



Daftar Pustaka:
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ikatan_kimia
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Energi_ionisasi