Oke pada blog kali ini aku akan membahas materi tentang asam dan basa. Yap, daripada kelamaan langsung lanjut ke materi, stay tone gaes...
A. Pengertian Asam dan Basa
Kata "asam" berasal dari bahasa Latin "acidus" yang berarti masam. Asam adalah zat (senyawa) yang menyebabkan rasa masam pada berbagai materi. Contoh: jeruk nipis, lemon, dan tomat.
Basa adalah senyawa kimia yang menyerap ion hidronium ketika dilarutkan dalam air. Basa memiliki pH lebih besar dari 7. Basa adalah zat (senyawa) yang dapat bereaksi dengan asam, menghasilkan senyawa yang disebut garam. Contoh: sabun mandi, sabun cuci, sampo, pasta gigi, pupuk, obat mag.
B. Teori Asam Basa
Teori asam basa di dalam ilmi kimia mempunyai tiga teori yang antara lain teori asam dan basa Arrhenius, teori asam dan basa Bronsted-Lowry, serta teori asam dan basa Lewis. Berikut penjelasannya,
1) Teori asam basa Arrhenius
Teori asam dan basa ini dikemukakan oleh Svante August Arrhenius yang merupakan seorang ilmuwan Kimia berasal dari Swedia yang lahir pada tanggal 19 Februari 1859 sampai 02 Oktober 1927 silam. Svante August Arrhenius pada tahun 1884 silam menjelaskan bahwa kekuatan asam di dalam air tergantung pada konsentrasi ion-ion hidrogen di dalamnya.
Menurut Svante August Arrhnius bahwa asam adalah zat yang jika di dalam air dapat melepaskan ion hidrogen (H+), sebenarnya ion-ion hidrogen yang dihasilkan oleh asam tersebut ketika dilarutkan di dalam air akan terikat dengan molekul-molekul air (H2O) dalam bentuk ion Hidronim yakni ion positif yang dibentuk atas penambahan sebuah ion Hidrogen (Proton) pada sebuah molekul air.
Namun tidak semua senyawa hidrogen itu asam misalnya Etanol yang mempunyai rumus kimia C2H5OH, walaupun didalam Etanol terdapat unsur H namun Eranol bukanlah asam. Kemudian asam berdasarkan kekuatannya menurut Svante August Arrhenius ini terdiri dari asam kuat dan asam lemah, sedangkan jika dilihat dari jumlah ion H+ yang dilepaskannya maka dibedakan menjadi Asam Monoprotik, Asam Diprotik dan Asam Triprotik.
Lalu teori asam basa menurut Arrhenius ini bahwa asam adalah senyawa yang dalam air mampu menghasilkan ion Hidroksida (OH-) dan basa berdasarkan pada ion OH- yang dilepaskan tersebut pada reaksi ionisasi basa maka dibedakan menjadi dua macam yang antara lain bas monohidrolik dan basa polohidroksi.
2) Teori asam basa Bronsted-Lowry
Teori asam basa Bronsted dan Lowry ini merupakan sebuah teori yang melengkapi dari kekurangan teori asam dan basa Arrhenius karena tak semua senyawa itu bersifat asam ataupun basa dapat menghasilkan sebuah ion H+ atau OH- jika dilarutkan didalam air.
Teori asam basa menurut Bronsted-Lowry bahwa asam ialah senyawa yang bisa menyumbang proton yakni ion H+ ke senyawa atau zat lain. Sedangkan basa ialah senyawa yang bisa menerima proton, yakni ion H+ dari senyawa atau zat lain. Lalu menurut Johannes Nicolaus Bronsted dan Thomas Martin Lowry bahwa zat mampu berperan baik sebagai asam ataupun basa, jika zat tertentu lebih mudah melepas Proton dan zat tersebut akan berperan sebagai asam dan lawannya berperan sebagai basa.
Sebaliknya jika suatu zat lebih mudah menerima Proton maka zat tersebut akan berperan sebagai basa dan dalam suatu Larutan asam dalam air, air tersebut berperan sabagai basa. Namun didalam teori asam basa Bronsted Lowry ini memiliki kelemahan yakni tidak dapat memperlihatkan sifat asam maupun sifat basa suatu senyawa jika tidak terdapat proton yang terlibat didalam reaksi.
3) Teori asam basa Lewis
Gilbert Newton Lewis merupakan ilmuwan kimia berasal dari Amerika Serikat yang lahir pada 23 Oktober 1875 dan meninggal pada 23 Maret 1946 yang terkenal dengan penemuannya seperti Ikatan Kovalen, Struktur Lewis dan asam basa Lewis. Menurut Gilbert Newton Lewis bahwa teori asam basa merupakan masalah dasar yang harus diselesaikan dengan landasan Teori Struktur Atom, bukan berdasarkan oleh hasil percobaan.
Adapun teori asam basa menurut Lewis bahwa asam ialah zat yang dapat menerima elektron dan menurut Lewis bahwa basa ialah zat yang bisa mendonorkan pasangan elektron. Semua zat yang didefinisikan sebagai asam didalam teori asam basa Arrhenius juga merupakan asam didala kerangka teori Lewis ini karena Proon ialah Akseptor Pasangan Elektron dan didalam reaksi Netralis Proton dapat membentuk ikatan koordinat dengan Ion Hidroksida.
C. Sifat-sifat Asam dan Basa
1) Sifat-sifat asam, yaitu:
- Rasanya masam/asam
- Bersifat korosif atau merusak
- Bila dilarutkan dalam air dapat dapat menghasilkan ion H+ atau ion-ion hidrogen dan ion sisa asam yang bermuatan negatif. Peristiwa terurainya asam menjadi ion-ion dapat dituliskan sebagai berikut: HA (aq) a H+ (aq) + A- (aq)
- Bila diuji dengan indikator kertas lakmus biru dapat mengubah lakmus tersebut menjadi merah. sedangkan jika diuji dengan indikator kertas lakmus yang berwarna merah, kertas lakmus tersebut tidak akan akan berubah warna. Indikator adalah suatu alat untuk menunjukkan suatu zat apakah bersifat asam maupun basa.
2) Sifat-sifat basa, yaitu:
- Rasanya pahit
- Bersifat kaustik atau dapat merusak kulit
- Bila dilarutkan dalam air dapat menghasilkan ion OH- atau ion hidroksil dan ion logam atau gugus lain yang bermuatan negatif. Apabila ion OH- hampir seluruhnya dilepaskan atau ionisasinya sempurna, maka termasuk basa kuat atau dikatakan memiliki derajat keasaman yang rendah dan begitu juga sebaliknya. Secara umum peristiwa peruraian basa menjadi ion-ion dapat dituliskan sebagai berikut: BOH (aq) a B+ (aq) + OH- (aq)
- Bila diuji dengan indikator yang berupa lakmus merah, maka akan mengubah warna lakmus tersebut menjadi warna biru, sedangkan dengan kertas lakmus biru, tidak akan mengubah warna kertas lakmus tersebut.
Daftar Pustaka:





